Pusat Pengelolaan Ekoregion Sumapapua

DAS Sulawesi PDF Print E-mail

                                                       POTRET DAS SULAWESI

Daerah Aliran Sungai (Watershed), yang banyak dikenal dengan istilah DAS pada dasarnya merupakan suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau laut secara alami, yang batas daratnya merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh oleh aktivitas daratan. Satu atau lebih DAS dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya ≤ 2000 km2 membentuk satu kesatuan wilayah pengelolaan SDA yang disebut Wilayah Sungai/River Basins (Pasal 1 UU No. 7/2004).

Berbicara air kita akan berbicara Wilayah Sungai/WS atau DAS dan Cekungan Air Tanah (CAT). Darah kehidupan (The Lifeblood) ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah AIR (Heathcote, 1998). Karena itu, Air menjadi Isu dan Indikator Utama (Primer Indicators) Ekosistem DAS: Kualitas (Too Much Pollution) dan Kuantitas (Too Much Water or Too Little Water). Berbagai aktivitas yang berbasis lahan (A Variety of Land-Based Activities) merupakan faktor penting yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas Sumberdaya air di dalam ekosistem DAS (Heathcote, 1998). Perubahan penggunaan lahan dapat secara signifikan mengubah jumlah dan tipe pencemaran pada sebuah sistem sungai. Kerusakan lahan merupakan faktor utama penyebab besarnya erosi dalam sebuah ekosistem DAS. Kerusakan Lahan dapat menganggu posokan/ketersedia air  untuk air baku air minum dan kegiatan domestik, kegiatan PLTA, pertanian, industri dan sebagainya. Semakin besar kawasan ruang terbuka hijau dikonversi menjadi bangunan-bangunan beton permanen, semakin besar aliran permukaan yang muncul.  Hal inilah yang menjadi salah  penyebab terjadinya banjir  di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.

Untuk mengatur pengelolaan sumberdaya air di Indonesia, Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air (SDA).  Undang-Undang ini pada intinya mengatur 3 (tiga) isu pokok SDA, yaitu (1) Konservasi sumberdaya air, (2) Pendayagunaan air, dan (3) Pengendalian dayarusak air.  Berkaitan dengan konservasi air, UU ini mengatur masalah perlindungan dan pelestarian sumberdaya air, pengawetan air dan pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.

Salah satu aturan pelaksanaan dari Undang-Undang tersebut adalah PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.  Pasal 8 PP No. 82 Tahun 2001 mengatur pembagian peruntukan air berdasarkan kelas air: Kelas I, II, III dan IV. Pembagian kelas ini didasarkan pada peringkat (gradasi) tingkatan baiknya mutu air, dan kemungkinan kegunaannya. Tingkatan mutu air Kelas Satu merupakan tingkatan yang terbaik. Secara relatif, tingkatan mutu air Kelas Satu lebih baik dari Kelas Dua, dan selanjutnya.  Disamping itu juga, berdasarkan ketentuan pada pasal 9, PP No. 82 tahun 2001, Pemerintah dan Pemerintah Daerah memiliki kewenangan (hak dan kewajiban) untuk menetapkan kelas air pada sumber-sumber air (sungai, danau, waduk) yang ada sesuai dengan kewenangan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.  Untuk sumber air lintas propinsi,  kelas air ditetapkan dengan Peraturan Presiden, sedangkan sumber air lintas kabupaten/kota ditetapkan dengan Perda Propinsi, dan sumber air yang berada hanya di dalam suatu wilayah kabupaten/kota ditetapkan dengan Perda Kabupaten/Kota.

A.     DAS MAMASA

 

DAS Mamasa merupakan DAS yang berada di dua propinsi, yaitu Provinsi Sulawesi Barat yang merupakan bagian hulu DAS Mamasa dan Provinsi Sulawesi Selatan yang merupakan bagian hilir DAS Mamasa.  Ada lima kabupaten yang berada di DAS Mamasa, Kabupaten Mamasa dan Kabupaten Polman di Sulawesi Barat dan Kabupaten Pinrang, Kabupaten Enrekang, serta Kabupaten Tantor di Sulawesi Selatan.

 

Hasil pemantauan terhadap DAS Mamasa menunjukan sejumlah fakta tentang kerusakan yang  terjadi di DAS tersebut. Hasil analisis tutupan lahan 2002 menunjukkan bahwa bentuk tutupan lahan yang dominan di setiap segmen adalah hutan campuran, hutan pinus dan kebun campuran.  Sedangkan berdasarkan pea tutupan lahan tahun 2005 (Peta MIH) menunjukkan bahwa 39,57 % kawasan DAS Mamasa masih berupa hutan.  Persentase luas tutupan lahan berupa hutan ini jika dibandingkan dengan kondisi kelerengan DAS Mamasa yang sebagian besar memiliki kelerengan > 40, maka luas tutupan hutan masih relatif kurang.

 

Kawasan lindung sempadan sungai di DAS Mamasa berdasarkan hasil analisi tutupan lahan 2002 dan 2005 juga telah mengalami kerusakan.  Tutupan lahan yang berupa hutan di dalam kawasan lindung sempadan sungai berdasarkan peta tutupan lahan 2005 hanya 33 % dari luas toal kawasan lindung sempadan sungai.  Sebagian besar kawasan lindung ini justru dialifungsikan /dimanfaatkan sebagai kawasan budidaya.

 

Berdasarkan data hasil pemantauan kualitas air Sungai Mamasa, dari seluruh parameter pantau (23 parameter), terdapat 7 parameter yang melampaui baku mutu air (BMA) seperti yang tercantum PP No. 82 Tahun 2001, yakni: TSS, Fosfat, Besi (Fe), Kadmium (Cd), Tembaga (Cu), Fecal Coliform, dan Total Coliform dan total coliform. Sedangkan parameter yang lainnya konsentrasinya masih dibawah baku yang ditetapkan.

 

Kerusakan lahan merupakan faktor uatama penyebab besarnya erosi di DAS Mamasa.  Tingkat Erosi pada tahun 1986 mencapai > 60 ton/ha/tahun.  Wilayah DAS dengan potensi Erosi tinggi mencapai 56 %, sedangkan pada tahun 2002 erosi mencapai 784.8 ton/ha/tahun, Terjadi peningkatan 300 % dalam waktu 20 tahun.  Kerusakan Lahan telah menganggu posokan listrik bagi masyarakat  luas, termasuk PLN Sendiri

 

         Laju Sedimen Saat ini mencapai 700.000 meter kubik per tahun (Pengukuran PLN & UNHAS);

         Volume Waduk saat ini Tersisa 593.710 meter kubik (Juni 2005)

         Ini Berarti Total Sedimen yang mengendap di Waduk Sebesar 6.331.405 meter kubik

 

 

B.     DAS TONDANO

 

Ekosistem DAS Tondano terletak di Propinsi Sulawesi Utara. DAS ini terletak pada pada 1o dan 2o LU dengan topografinya berupa pegunungan. Luas DAS ini sekitar 500,97 km2 (kira-kira 50.000 ha). Secara administratif, DAS Tondano terletak di wilayah administrasi kabupaten Minahasa dan kota Manado. Bagian hulu (utara) DAS ini terletak pada kabupaten Minahasa (10 kecamatan) dan bagian hilirnya (selatan) di kota Manado (4 kecamatan).

 

DAS Tondano berperan sebagai pusat pembangunan ekonomi Sulawesi Utara. Lebih dari 70% area di DAS ini digunakan untuk produksi pertanian.  Sungai Tondano adalah sumber utama air minum untuk penduduk kota Manado dan Minahasa (PDAM minahasa dan Manado), untuk melayani kebutuhan harian sekitar 120.000 penduduk. Selain itu sungai Tondano merupakan penyedia energi untuk turbin hydroelektrik dengan kapasitas terpasang 34 Megawatts ((PLTA) Tonsea Lama, dan Tanggari I dan II). Energi ini dapat menyuplai 30% energy yang dibutuhkan propinsi Sulawesi Utara. 

 

Danau Tondano juga sangat penting bagi masyarakat Sulawesi Utara, khususnya masyarakat Minahasa dan Manado. Air Danau Tondano digunakan sebagai air baku untuk pertanian, untuk industri selain juga untuk kebutuhan domestik. Danau Tondano merupakan juga sumber ikan yang tinggi.Total tangkapan bisa mencapai lebih dari 2000 ton ikan (1998)  yang berasal dari  floating nets culture system (karamba) 1357 ton dan dari tradional fishing 776 tons). Produksi ikan dengan fish culture techniques berkembang secara signifikan pada tahun 1990. Rawa pada outlet Danau Tondano juga dimanfaatkan untuk peternakan (budidaya itik, dll). Danau ini juga merupakan tujuan wisata yang utama, khususnya bagi pariwisata lokal.  Beberapa areal lahan di kawasan DAS Tondano ini merupakan sentra produksi hortikultura Sulawesi Utara.

 

Tingkat kerusakan lingkungan di DAS Tondano sangat parah dan memprihantikan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1999, DAS Tondano dikategorikan sebagai salahtu satu dari 60 Prioritas I di Indonesia. Pemerintah Sulawesi Utara juga menetapkan DAS Tondano sebagai kawasan yang kritis.  Beberapa permasalahan lingkungan yang mengancaman kelestarian DAS Tondano di antaranya perusakan hutan dan lahan, erosi dan sedimentasi, banjir, penurunan kualitas dan kuantitas air, pencaplokan sempadan sungai, danau dan mata air.

 

Perusakan Hutan dan Lahan.

 

Pada beberapa tahun terakhir ini, DAS Tondano telah mengalami perubahan yang begitu besar sebagai akibat meningkatnya aktivitas manusia dalam pemanfaatan lahan. Tahun 1982 luas hutan 2.450 ha atau 8,35 % Tahun 1999, luas hutan berkurang menjadi 2.182 ha atau 7,44 % (PPLH-Unsrat 2005). Dari tabel 2 terlihat bahwa saat ini luas hutan yang tersisa hanya sekitar 7% di DAS ini, jauh dibawah persyaratan minimum UU 41 tahun 1999 tentang Kehutanan sebesar 30 %. Hutan yang tersisa pun lebih banyak terdapat  di daerah hilir. 

 

Banyak bentuk penggunaan lahan pada bagian hulu DAS, yang merupakan daerah tangkapan air danau Tondano, tidak sesuai dengan arahan pemanfaatan lahan. Kerusakan hutan disebabkan karena banyak terjadinya penebangan liar dan adanya pembukaan/alih fungsi lahan untuk kegiatan pertanian. Penebangam liar terutama terjadi di di hulu dan tengah DAS, terutama pada hutan-hutan lindung. Hal ini ditengarai karena tidak ada lagi hutan produksi yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan kayu yang cukup mendesak dan bernilai ekonomi tinggi, misalnya untuk industri meubel, rumah kayu/rumah adat, maupun bahan bangunan.

 

 JICA (2001) melaporkan bahwa pada hutan lindung G. Soputan telah terjadi perambahan seluas 30 ha dengan jumlah perambah 40 kepala keluarga. Tabel 2 memperlihatkan bahwa kawasan hutan lindung yang terdapat di beberapa areal pegunungan banyak didominasi oleh lahan pertanian dan semak belukar.  Kecuali area lahan di gunung Kawatak, area lahan di gunung-gunung lainnya ternyata hanya memiliki luas hutan kurang dari 30 %, bahkan ada yang nol persen.

 

Erosi dan sedimentasi

 

Hal ini terutama terjadi pada sungai-sungai yang merupakan inlet Danau Tondano, danau Tondano sendiri, Muara sungai Tondano dan Sungai Tikala. Erosi dan sedimentasi ini terjadi karena penebangan hutan di bagian hulu dan desakan aktivitas pertanian pada lahan hutan yang tidak mempertimbangkan aspek konservasi, dan karena penggantian tanaman treecrops pada lahan miring, dengan vanili dan palawija. 

 

UNSRAT (2000) memprediksi erosi yang terjadi di bagian hulu DAS Tondano berkisar 28,86 – 63,00 ton/ha/tahun.  JICA (2001) mengemukakan angka yang lebih kecil dari UNSRAT (2000) yaitu sebesar 12,5 – 27,6 ton/ha/tahun.  Meskipun demikian JICA (2001) mengindikasikan bahwa 9 % – 45 % dari daerah ini memiliki laju erosi yang telah melebihi nilai yang diperbolehkan. 

 

Erosi tanah dan kerusakan koridor riparian di sepanjang sungai dan danau Tondano menyebabkan terjadinya sedimentasi/pendangkalan di danau Tondano.  Akibat pendangkalan, diperkirakan lokasi terdalam hanya sekitar 15 meter, bahkan 20 meter dari tepi danau kedalaman airnya hanya sekitar 5 meter.  Pada tahun 1934 kedalam danau sekitar 40 meter.  Hal ini berarti dalam satu tahun terjadi pendangkalan sekitar 25-30 centimeter.  Bila tidak ada tindakan bersama yang kongret, lima tahun mendatang danau Tondona juga akan menghilang dari muka bumi Minahasa.

 

Banjir

 

Banjir di kawasan pemukiman dan persawahan sekitar outlet Danau Tondano diakibatkan oleh adanya bendungan yang dibangun oleh PLN di Tonsea Lama untuk mendapatkan air guna menggerakkan turbin. Praktek pemanfaatan sungai sebagai lahan untuk budidaya ikan dengan karamba, karena sebarannya yang terlalu rapat, mengganggu aliran air pada badan sungai Tondano dan Sungai Tikala. Begitupun perambahan bantaran dan badan sungai dengan bangunan-bangunan, telah menyebabkan penyempitan dan penyumbatan pada badan sungai. Hal ini mengakibatkan banjir bagi Kodya Manado (sungai Tondano dan sungai Tikala).

 

Penurunan kualitas dan kuantitas air

 

Hal ini berlangsung di sekitar danau Tondano, sepanjang sungai Tondano dan Sungai Tikala. Hal ini karena sedimentasi dan tanah longsor, penggunaan bahan-bahan kimia (herbisida, pestisida, pupuk) untuk budidaya pertanian dan sisa-sisa pakan dari perikanan, dan juga dari limbah padat (sampah) dari kota Tondano, dan desa-desa di sepanjang sungai dan dari kota Manado. Padahal air sungai Tondano adalah sumber air baku utama air minum.

 

Peningkatan muatan sediment yang masuk ke sungai Tondano dan anak-anak sungai akan menyebabkan kehilangan produktivitas danau, kerusakan lingkungan pesisir serta kapasitas pelabuhan Manado. Muatan sediment yang tinggi tercermin dari data yang dikompilasi oleh PDAM Manado.  Data pada instalasi pengolahan air PDAM menunjukkan bahwa sungai Tondano meningkat dari 15-20 ppm pada tahun 1970 menjadi 25 ppm pada tahun 1980 dan 30 ppm pada tahun 1990 hingga 30-50 ppm saat ini (2001).  Danau Tondano dilaporkan memiliki kedalaman 40 meter pada tahun 1934, tetapi survey pada tahun 2000 menunjukan kedalamnya hanya 20 meter.  Sediment yang dibawah aliran sungai dari Danau Tondano hinnga ke muara sungai di daerah pesisir jua banyak menimbulkan masalah di sekitar pelabuhan Manado.  Kapal-kapa besar tidak bisa masuk ke pelbuhan pada saat air laut sedang surut.

 

Eutrofikasi merupakan suatu proses dimana konsentrasi nutrient di danau meningkat yang mengakibatkan terjadinya ledakan pertumbuhan algae dan organisme mikroskopik yang dapat mencegah masuknya sinar matahari serta mencegah absorpsi oksigen yang dibutuhkan oleh kehidupan dalam air.  Proses ini terjadi secara alami, tetapi dalam kasus Danau Tondano, hal tersebut sudah diakselerasi oleh perubahan-perubahan tingkat nutrient di dalam air yang mengalir kearah danau.  Peningkatan laju eutrofikasi Danau Tondano yang akan menyebabkan peningkatan produksi alga dan eceng gondok di danau yang kemudian menurunkan produktivitas danau untuk perikanan, peningkatan biaya pemeliharaan fasilitas PLTA, penuranan kegiatan wisata danau.

 

UNSRAT (2000) melaporkan beberapa hasil penelitian tentang kualitas air, antara lain: residu pestisida yang terdapat di beberapa sungai sebesar 0,02 ppm – 0,03 ppm dan di danau sebesar 3,77 – 15,60 ppm, kandungan amoniak di danau Tondano (daerah Eris) telah melebihi ambang batas golongan C, laju pertumbuhan eceng gondok yang sangat cepat, dan adanya beberapa larva serangga seperti Hydropsyche, Epeorus, ikan Hippichthys, Dorychthys yang merupakan indikator bagi perairan tercemarBeberapa sumber pencemar yang menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air adalah:

§         Pemberian pupuk-pupuk kimia yang dilakukan oleh para petani local pada lahan padi seluas 5000 hektar yang berada di sekeliling danau.  Pada saat ini para petani menggunakan 150 kg pupuk urea per tahun dan 60 kg fosfat per tahun per hektar.  Hal ini menyebabkan lebih kurang 750 ton urea dan 250 ton fosfat masuk ke dalam danau dari lahan-lahan pertanian di sekitar tanah.

§         Pembuangan diterjen dan limbah padat.  Diperkirakan jumlah deterjen yang dilepaskan di DAS bagian hulu ke anak-anak sungai yang ada didalamyan adalah sebanyak 50 ton per tahun.  Limbah padat sering kelai juga dibuang ke sungai.  Pembuangan lim,bah padat disamping akan mencemari lingkungan perairan sungai dan pesisir juga akan menganggu operasi PLTA yang ada di sungai Tondano.

§         Limbah kegiatan perikanan.  Perikanan merukan kegiatan yang umum dilakukan di Danau Tondano.  Terdapat lebih kurang 50 usaha perikanan.    Kegiatan usaha ini menggunanakan pellet terkonsentrasi untuk makanan ikan.

§         Limbah peternakan bebek.  Lebih kurang 42.000 bebek manila diternakan di pesisir danau.  Manure dari bebek masuk langsung ke danau dan akan memperkaya periaran danau.

 

Pencaplokan sempadan sungai, danau dan mata air

 

Hal ini berlangsung di DAS bagian hulu dan tengah. Usaha-usaha perlindungan sempadan sumber-sumber air tidak optimal dilakukan sehingga penggunaan lahan tersebut untuk areal pertanian dan pemukiman sulit dicegah.

 

C.     DAS LIMBOTO

 

Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto terletak di Propinsi Gorontalo. DAS ini merupakan salah satu DAS kritis dan prioritas. DAS ini merupakan bagian dari Wilayah Sungai Bone-Bolanga. Ada dua wilayah adminsitrasi pemerintah yang terdapat di dalam kawasan eksositem DAS Limboto ini, yaitu Kabupaten Gorontalo dan sebagai kecil kota Gorontalo.  DAS ini memiliki luas 91.400 hektar dan tersebar di 9 (sembilan) kecamatan dan 70 desa.  Delapan kecamatan berada di Kabupaten Gorontalo, dan 1 kecamatan ada di Kota Gorontalo.  DAS Limboto di sebelah Utara berbatasan dengan DAS Poso Atinggola, sebelah Selatan dengan DAS Batudaa-Bone Pantai, sebelah Barat dengan DAS Paguyaman, dan sebelah Timur dengan DAS Bolanga.

 

Di dalam kawasan DAS Limboto terdapat Lebih kurang ada 23 anak sungai mengalir ke dalam danau Limboto. Empat sungai besar yang mengalir di DAS ini terdiri dari sungai Bionga, sungai Molalahu, sungai Pohu, dan sungai Meluupo. Dari seluruh sungai tersebut hanya Sungai Biongo yang mengalir sepanjang tahun.  Sungai ini mengalir dari mata air di daerah pegunungan di sebelah utara danau. Sungai satu-satunya yang menjadi outlet danau Limboto adalah sungai Topudu.   Sungai Topodu mengalir ke arah Teluk Tomini.  Sebelum masuk ke Teluk Tomini sungai bersatu dengan sungai Bolonga dan masuk ke Sungai Bone, akhirnya ke teluk Tomini.

 

Sebagian areal lahan di DAS Limboto (48 %) miliki kemiringan di atas 25 % (curam dan sangat curam).  Titik tertinggi di DAS ini adalah berupakan kawasan pegunungan dengan ketinggian mencapai 2.100 meter.  Curah hujan di DAS Limboto lebih dari 2000 mm.

 

Ekosistem DAS Limboto sedang mengalami proses kerusakan yang sangat parah. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1999, DAS Limboto dikategorikan sebagai satu dari 60 DAS Prioritas I di Indonesia. 

 

Kondisi daerah tangkapan air di kawasan upper watershed DAS Limboto ini telah banyak terjadi penggundulan hutan, dan praktek-praktek pengolahan tanah yang tak sesuai dengan kaidah yang benar.  Terjadi perbedaan yang sangat mencolok air di sungai antara pada musim hujan dengan musin kemarau. Pada musim hujan, air berlimpah, namun saat musim kemarau terjadi kekurangan air. Perbedaan jumlah air yang ada di sungai pada musim hujan dan pada musim kemarau itu menunjukkan kualitas lingkungan hidup di DAS ini sudah sangat terganggu.

 

Pendangkalan dan penyusutan luas Danau Limboto

 

Masalah utama yang dihadapi DAS Limboto adalah penyusutan luas dan pendangkalan Danau Limboto yang merupakan salah satu ‘landmark’ ekosistem Provinsi Gorontalo. Laju pendangkalan danau akibat erosi dari sungai-sungai yang bermuara di danau ini sangat besar.  Pada tahun 1932, rata-rata kedalaman Danau Limboto 30 meter dengan luas 7.000 Ha.  Pada tahun 1955 kedalaman danau menurun menjadi 16 meter. Dan dalam tempo 30 tahun, (tahun 1961) rata-rata kedalaman Danau Limboto telah berkurang menjadi 10 meter dan luasanya menyusut menjadi 4.250 Ha. Pada tahun 1990 - 2004 kedalaman Danau Limboto tinggal rata-rata 2,5 meter dan luasnya yang tersisia tinggal 3.000 Ha.  Pendangkalan ini selaim dipicu oleh erosi sungai dan lahan, juga disebabkan oleh para nelayan yang selama bertahun-tahun membangun perangkap ikan yang menggunakan gundukan tanah dari darat serta batang-batang-batang pohon (lihat table 1). Dalam kurun waktu 52 tahun Danau Limboto berkurang 4304 ha (62.60 %).  Jika kita hitung per tahunnya, tingkat penyusutan danau mencapai 65.89 hektar.  Diperkirakan pada tahun 2025 danau Limbota lenyap dari muka bumi Gorontalo.

 

Pendangkalan danau menyebabkan munculnya tanah-tanah timbul di kawasan perairan danau.  Tanah-tanah timbul ini  sudah diokupasi dan di’kapling’ oleh masyarakat yang seakan-akan dijadikan hak milik dan dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan seperti  sawah (637 hektar), ladang (329 hektar), perkambungan (1272 hektar), dan peruntukan lainnya (42 hektar).  Tanah-tanah tersebut. Hal ini menimbulkan kerawanan sosial karena konflik antar masyarakat kemungkinan besar dapat terjadi dalam memperebutkan kawasan danau.

 

Penurunan Kualitas Air Danau

 

Disamping masalah okupasi tanah-tanah timbul tersebut, berbagai aktivitas masyarakat di sekitar dan di dalam kawasan danau juga semakin mengancam dan memperburuk kelestarian fungsi Danau. Saat ini kualitas air danau limboto mengalami penurunan kualitas akibat limbah domestik, aktivitas budidaya yang dilakukan di dalam danau, sedimentasi danau akibat erosi di daerah hulu sungai. 

 

Akibat eutrofikasi Danau Limboto banyak tumbuh tanaman pengganggu yang banyak menyerap air dan dan dapat mempercepat pendangkalan danau.  Saat ini eceng gondok di danau Limboto tumbuh meluas.  Masyarakat juga banyak melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan racun (potas), bom ikan dan alat penangkap skala besar merajalela sehingga mengakibatkan penurunan keragaman genetik ikan dan biota air lainnya serta menurunnya kualitas air danau.

 

Pengrusakan dan pencemaran ekosistem danau ini menyebabkan beberapa jenis ikan lokal telah menurun populasinya seperti ikan huluu, payangga, gabus, udang dan sebagainya dan bahkan ada yang punah seperti mangaheto (ikan sejenis bobra warna merah), Botua (ikan jenis mujair berwarna putih tanpa sisik), Bulaloa (ikan jenis bandeng tulang sedikit berwarna putih bersisik), dan Boidelo (mirip ikan tuna bersisik dan berwarna abu-abu) (JICA-Dephut, BP DAS Bone Bolango, LP2G 2003). Dulu bermacam-macam ikan air tawar dapat dijumpai didanau ini.  Kini yang tersisa hanya mujair, nila, gabus atau sepat.

 

Pencemaran lingkungan juga terjadi di ekosistem danau Limboto, terutama pada musim kemarau.  Pencamaran ini disebabkan oleh akumulasi inlet, sedimentasi dan kegiatan pertanian disekitar danau.  Di bagian barat danau kadar oksigennya rendah (0.2 ppm), BOD tinggi (29-49 ml/gr) dan COD mencapai 47-57 ml/gr.  Bakteri coliform 5 kali dari batas maksimum yang diprebolehkan (LBB Master Plan Interim Report, SubDinas Pengariran PU Sulut 2000).  Logam-logam berat seperti Cd, Hg, Pb, dan Cr6+, serta Se, AS, Zn, FE, dan MN juga terdeksi di perairan danau Limboto.

 

Banjir

 

Pendangkalan danau di satu sisi dan terjadinya kerusakan hutan disisi lain juga menyebabkan terjadinya banjir. Setiap tahun terjadi pendangkalan danau setinggi 46.66 cm dan penyempitan danau sebesar 66.66 hektar dan terjadi penurunan muka air normal danau sebesar kurang lebih 1,75 cm (Nelson Pomalinggo, 2005). Penurunan daya tampung danau, menyebabkan terjadi banjir. Banjir hampir terjadi setiap tahun di wilayah hilir selama tiga tahun terkahir: Kecamatan Limboto Batudaa dan Telaga.

 

Penurunan Kuantitas Air

 

Penurunan kuantitas air juga menjadi masalah yang tidak kecil di DAS Limboto ini. Debit sumur di seluruh wilayah sungai relatif kecil, berkisar antara 2 l/s sampai 30 l/s, dan hanya dapat memenuhi kurang lebih dari 10 % kebutuhan air irigasi atau penggunaan domestik lainnya (JICA-Dephut, BP DAS Bone Bolango, LP2G 2003

 

Perusakan Hutan dan Lahan

 

Daerah tangkapan air (catchment area) DAS Limbota telah mengalami degradasi yang serius.  Banyak kegiatan pertanian di DAS Limbota menjarah kawasan hutan lindung.  Kegiatan lahan pertanian yang banyak berkembang adalah pertanian lahan kering untuk tegalan (palawija), kebun kelapa, kemiri dan sebagainya.  Luas lahan pertanian tersebut mencapai 40.58 % dari luas wilayah DAS Limboto (JICA-Dephut, BP DAS Bone Bolango, LP2G 2003).

 

Kegiatan peladangan berpindah, pembakaran lahan, penebangan liar dan pengembalaan liar marak dilakukan oleh berbagai pihak. Berdasarkan klasifikasi hutan, sebagian besar daerah tangkapan air hujan pada DAS LBB ternyata telah lama dilegalisasi menjadi Hutan Produksi Terbatas (HPT) atau Limited Production Forest yang telah mendorong secara formal eksploitasi hutan secara besar-besaran. Luas hutan di DAS Limboto hanya 14.893 hektar (16.37 % dari luas DAS) jauh di bawah persayartan minimum (30 %). 

 

Kerusakan hutan memperbesar tingkat erosi tanah dan menyebabkan lahan-lahan yang ada menjadi kritis. Berdasarkan RTL-RLKT DAS Limboto, 2004, tingkat erosi di DAS Limboto mencapai angka 9.902.588,12 ton/tahun atau rata-rata 108.81 ton/ha/tahun.  Sedimentasi di Danau Limboto sebesar 0.438 mm/tahun (BP DAS Bone Bolango, 2004). Luas lahan kritis mencapai angka 26.097 hektar lahan kritis terdiri dari 12.573 hektar lahan kritis di dalam kawasan hutan dan 13.524 ha di luar kawasan hutan (JICA-Dephut, BP DAS Bone Bolango, LP2G 2003).

 

Perusakan Hutan Riparian

 

Laju sedimentasi tidak hanya disebabkan oleh tingginya penggundulan hutan di bagian hulu, tetapi juga erosi tebing sungai-sungai yang bermuara ke danau,. Sebagian besar areal di bantaran sungai saat ini telah digunakan oleh masyarakat untuk berbagai peruntukan dari kawasan permukinan, sawah, ladang dan kebun. Kegiatan tersebut menyebabkan hilanganya vegetasi asli dan rusaknya ekosistem riparian.  Sehingga menyebabkan sungai-sungai tersebut tidak memiliki filter untuk menahan sediment dan berbagai bahan pencemar air sungai lainnya.

 

 

D.     DAS TEMPE

Ekosistem danau Tempe merupakan suatu kawasan yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh system Danau Tempe.   Ekosistem ini terletak di bagian tengah Propinsi Sulawesi Selatan.  Kawasan yang mempengaruhi system danau Tempe adalah Daerah Aliran Sungai (DAS) Walanau di bagian Selatan, DAS Bila di Bagian Utara, dan Tempe Depression/Batu-Batu di bagian Barat.  Sedangkan kawasan yang dipengaruhi oleh system danau Tempe adalah DAS Cenranae atau DAS Walanase Hilir di bagian Timur system Danau Tempe.  Kawasan ini dalam system pengelolaan sumberdaya air di Indonesia membentuk sebuah wilayah sungai (River Basin) yang disebut Wilayah Sungai Walanae-Cenranae (WS-Wal-Cen).

Luas wilayah ekosistem Danau Tempe (WS Wal-Cen) adalah 789.700 hektar.  Secara administrative dalam kawasan ekosistem danau Tempe terdapat 6 kabupaten, yaitu: Enrekang, Sidrap, Wajo, Soppeng, Bone dan Maros.  Ekosistem Danau Tempe dikelilingi oleh deretan pegunungan dengan elavasi dari 1500-3000 meter.  Kurang lebih 37 % area lahan di ekosistem Danau Tempe memiliki kelerangan lebih dari 45 %.  Sebagian besar area lahan (70 %) peka terhadap erosi tanah.

Ada dua sungai utama dengan berbagai anak sungai yang mengalir ke dalam system danau Tempe, yaitu sungai Bila dai Utara dan sungai Walanae dari Selatan.  Sungai Walanae berasal dari kawasan pegunungan di bagian Selatan (kabupaten Maros) mengalir sejauh kurang lebih 100 km ke arah Selatan bertemu dengan sungai Cenranae.  Rata-rata lebar sungai ini mencapai 100 meter dengan debit aliran air sungai mencapai 400-2300 m3/detik. Sungaii Bila yang memmiliki hulu di Kabupaten Enrekang bermeander sejuah 100 km ke arah Selatan menuju Danau Tempe.  Lebar sungai ini mencapai 70-200 meter dengan kapasitas mencapai 340-1130 m3/detik.

Sistem danau Tempe terdiri dari tiga danau, yaitu Danau Tempe, Danau Sidenreng, dan Danau Buaya.  Pada musim hujan ketiga danau ini bergabung membntuk satu danau Besar, sedangkan pada musim kemarau danau tersebut terbagi menjadi tiga danau yang terpisah satu sama lain.  Sungai Cenranae merupakan satu-satunya outlet.  Sungai ini mengalir sepanjang 69 km ke arah Tenggar dari kota Sengkang menuju Teluk Bone.  Lebar sungai ini kurang lebih 100-150 meter dengan kedalaman rata-rata 5-8 meter dan debit air sungai mencapai 250-650 m3/detik.

Jumlah penduduk yang ada di dalam ekosistem Danau Tempe adalah 1.224.043 jiwa dengan jumlah keluarga (household) 288.991 keluarga.  Komposisi penduduk didominsi oleh kelompok umur 15-65 tahun (63 %). Sebagian besar penduduk mempunyai tingkat pendidikan sekolah dasar (SD).   Dari indicator kegiatan ekonomi utama di ekosistem Danau Tempe terlihat bahwa sebagian besar masyarakat melakukan kegiatan usaha di bidang pertanian.  Sumbangan PDRB sector ini rata-rata mencapai 53 % dengan  distribusi tenaga kerja petani berjumlah 50 % dari seluruh tenaga kerja yang ada.

Danau Tempe pernah menjadi sentra terpenting produksi perikanan air tawar di Indonesia.  Pada tahun 1957-1959 produksi ikan di Danau Tempe pernah mencapai akngka 50.000 ton per tahun.  Ikan-ikan air tawar tersebut dipasarkan sampai ke Jakarta, Surabaya, Semarang dan Kalimantan. Saking melimpahnya produksi ikan pada saat itu, danau Tempe dijuluki sebagai mangkuk ikanya Indonesia.

Danau Tempe juga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan unik.  Danau ini merupakan ekosistem lahan basah yang banayk disinggah oleh berbagai burung yang biasa bermigrasi dari Australia ke Asia dan sebaliknya.  Diantaranya adalah burung Glassy Ibis, Gragancy, dan Great Reed Warbles.  Disamping kaya akan berbagai jenis burung, ekosistem ini juga mememliki beberapa species moluska yang endamik dan memiliki paling sedikit satu jenis ikan endemic.  Ekosistem lahan basah ini juga pernah dikenal sebagai Ramsar Site pernah diusukan menjadi Cagar Alam pada tahun 1978. 

 

Tingkat kerusakan lingkungan di DAS-DAS yang terdapat di dalam Ekosistem DAS Tempe sangat parah dan memprihantikan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1999, DAS-DAS tersebut dikategorikan sebagai Prioritas I di Indonesia.  Gambar 2 di bawah ini mengambarkan berbagai bentuk perusakan lingkungan dan faktor-faktor penyebabnya langsung dan tidak langsung di kawasan ekosistem danau Tempe.

 

Banjir dan Kekeringan

Fenomena kerusakan sumberdaya lahan yang terjadi selama ini adalah masalah Banjir.dan kekeringan. Banjir dan kekeringan merupakan “saudara kembar” yang pemunculannya dating susul menyusul.  Faktor penyebab banjir sama persis dengan faktor penyebab kekeringan. Kawasan eksositem danau Tempe hampir setiap musim hujan mengalami Banjir.  Area yang selalu tergenang pada saat musim hujan adalah di sekitar danau Tempe, daerah hilir sungai Bila dan sungai Walanae, serta area disepanjang sungai Cenranae.  Banjir telah banyak menimbulkan kerugian bagi masyarakat banyak.  Lahan-lahan pertanian, perumahan penduduk dan infrastruktur sering mengalami kerusakan akibat banjir.

Pada musim hujan tinggi muka air Danau dapat mencapai elevasi 7.0-9.0 meter dan luas permukaan air mencapai 28.000-43.000 hektar.  Sementara pada musim kemarau luas permukaan air hanya mencapai 10.000 hektar dengan kedalam mencapai 1.5 meter.  Elevasi dasar danau adalah 3.00 meter pada titik terendah.  Pada tahun yang sangat kering, luas permukaan danau Tempe bahkan hanya mencapai dibawah 1.000 hektar dengan kedalaman 0.5 meter.  Pada tahun 1993, 1994 dan 1997 pada saat musim kering yang sangat ektrim berlangsung, luas minimal permukaan danau hanya mencapai 200 hektar.

Perusakan Hutan dan Lahan

Banjir dan kekeringan seperti diuraikan diatas disebakan oleh kerusakan hutan.  Luas areal hutan yang tersisa di kawasan ekosistem danau Tempe berdasarkan interpretasi citra Landset pada tahun 2002 adalah 119.816 hektar atau hanya sekitar 15 % dari luas kawasan ekosistem danau Tempe.  Luas hutan ini jauh dibawah persyaratan minimal 30 % sesuai dengan UU 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.  Berdasarkan arahan penggunaan lahan (land use plan), luas kawasan hutan lindung yang harus ada di kawasan ekosistem danau tempe harus mencapai luas 236.910 hektar (42 %).  Selain hutan Lindung, disarankan untuk adanya Buffer zone seluas  116,157 Ha (15 %). Areal kawasan hutan yang ada pun banyak digunakan oleh masyarakat untuk kegiatan non kehutanan (121.054,81 hektar atau 50.24 % dari luas total hutan) (data luas hutan dari Dinas Kehutanan Kabupaten.

Dengan tingkat kerusakan hutan seperti di atas maka tidak heran jika banyak areal lahan telah berubah menjadi lahan kritis.  Luas lahan kritis di kawasan ekosistem danau Tempe mencapai 170.976 hektar, teridiri dari 92.187 hektar di areal hutan dan 78.789 hektar di luar kawasan hutan.  Kerusakan hutan di kawasan ini disebabkan oleh konversi kawasan hutan menjadi lahan-lahan pertanian dan perkebunan oleh masyarakat, aktivitas perladangan berpindah dan illegal loging yang dilakukan oleh masyarakat.

Kerusakan hutan juga berpengaruh terhadap koefisien regim sungai (KRS), yaitu perbandingan antara debit maksimum (Qmax) dan debit minimum (Qmin) bulanan.  Makin kecil koefisien ini berarti makin baik kondisi tata air (hidrologi) wilayah DAS.  Dari grafik di bawah ini terlihat baha nilai KRS sungai-sungai yang ada di kawasan ekosistem sungai ini pada umumnya sngat besar lebih dari ambang batas yang dipersyaratkan (KRS<50).  Ini berarti kondisi tata air di ekosistem danau Tempe telah mengalami kerusakan yang serius.

Erosi dan Sedimentasi

Kerusakan hutan seperti telah diterangkan di atas akan menyebabkan terjadinya erosi tanah dan sedimentasi di sungai dan danau.  DAS Bila yang terdiri dari tiga Sub DAS, yaitu Sub DAS Bila, Sub DAS Bungin dan Sub DAS Bulu Cenranae, nilai erosi actual (rata-rata erosi) masing-masing adalah 4.858.527, 61 ton/thn (83,73 ton/ha/thn), 1.983.683,44 ton/thn. Berdasarkan data RTL RLKT Sub DAS Bila (1987), tingkat erosi yang terjadi di Sub DAS Bila berkisar antara 74-7.400 ton/ha/tahun.  Sebagian besar (92 %) areal lahan di Sub DAS Bila ini mengalami erosi sangat berat.

Tidak heran dengan kondisi tingkat erosi tanah seperti di atas, maka tingkat sedimentasi yang terjadi di Danau Tempe sangat tinggi.  Sedimentasi yang terjadi berdasarkan data debit sedimen (sediment discharge) selama 20 tahun dari tahun 1976-1995 adalah 519.000 m3 per tahun.  Dari jumlah sedimen ini, 74 % berasal dari Sungai Walanae.  Berdasarkan analisa erodibilitas lahan di 5 DAS utama yang ada di ekosistem danau Tempe, terlihat bahwa seluruh DAS berada dalam kondisi jelek (poor condition), dengan nilai skore erodibilitasnya dibawah 40.

Perusakan Hutan Riparian di Sepanjang Sungai dan sekeliling Danau

Banyaknya sedimen di dalam sungai dan danau juga disebabkan oleh karena sungai dan danau di kawasan ekosistem ini sudah tidak memiliki benteng pertahanan terakhir berupa kawasan hijau yang terdapat di sepanjang sungai dan di sekeliling danau.  Daerah sempadan sungai pada umumnya didominasi oleh tegalan/ladang, sawah dan kawasan permukiman penduduk dan dibeberapa tempat berupa belukar.  Lahan-lahan basah banyak terdapat di sepanjang kiri kanan sungai sudah banyak yang beralih fungsi menjadi peruntukan lain. Daerah sempadan danau pada umumnya didominasi oleh rawa dan sawah, dan kawasan permukiman penduduk.

Erosi tebing sungai banyak terjadi pada sungai-sungai yang ada di dalam ekosistem Danau Tempe ini.  Di beberapa ruas sungai yang terdapat di sungai Walanae, Bila, dan Cenranae, erosi tebing sungai terjadi beberapa titik, dengan panjang bisa mencapai ratusan meter, dengan lebar bervariasi antara 3-5 meter.

Instrusi Air Laut

Survey intrusi air luat dilakukan pada tanggal 10 Maret 1997 pada ruas di bagin tengah dan ruas dibawahnya seperti Uloe, Palima, Solo dan Cenrana.  Hasil konduktivitas elektrik menunjukan nil.  Survey intervies dilakukan pada tanggal 21 November 1997 (aliran air sangat rendah) dan ditemukan bahwa instrusi air laut mencapi hingga ke Desa Tolowe lebih kurang 25 km ke arah darat dari Teluk Bone.  Arus balik yang dipengaruhi oleh pasang adalah hingga ke desa Panpanua (Nippon Koei 1997).  Berdasarkan hasil FGD disebutkan bahwa pada saat musim kemarau, instrusi air laut mencapai 15 km kearah darat Sungai Cenrana.  Pada saat ini sungai pada ruas yang terpengaruh intrusi air laut tidak dapat digunakan sebagai sumber air tawar bagi penduduk di sekitarnya.  Kondisi ini terjadi di Sungai Cenrana yang terletak di kabupaten Bone, khususnya di Kecamatan Cenrana (Nippon Koei 2003).

Pencemaran Air Sungai dan Danau

Air danau Tempe dan sungai–sungai yang ada  selama kurun waktu 25 tahun peruntuknnya sesuai untuk perikanan, pertanian dan irigasi. Bahan-bahan pencemar yang kandungan tinggi di badan air adalah suspended solids, nitrogen dan bahan-bahan organic, yang diakibatkan oleh aktivitas masyarakat bantaran sungai yang system sanitasi lingkungannya rendah. Mereka membuang sampah dan limbah cair domestic ke perairan.

Pada bulan Novemebr 2002 BOD pada badan air danau 12 kali lebih tinggi  dari baku mutu (national minimum , standard  dan DO nya mencapai tingkat yang berbahaya yaitu 0,3 ppm disamping kadar Besi, seng, mangan dan coliforms yang juga tinggi. Air permukaan sekarang hanya cocok untuk irigasi dan tidak layak diminum walaupun telah dididihkan. Terdeteksinya logam berat pada perairan danau bisa berpengaruh pada produktifitas ikan. Adapun zat-zat yang telah melewati ambang batas  untuk penggunaan perikanan adalah logam berat Pb (lead), Zinc (Zn), Mg, dan zat besi . Akibat banyaknya nutrient yang masuk ke dalam danau Tempe, menyebabkan terjadinya eutropikasi.  Eutropikasi ditandai oleh banyaknya eceng gondok yang tumbuh di perairan danau.  Tanaman ini sebelum tahun 1950 tidak pernah dijumpai di perairan danau. (*)