Pusat Pengelolaan Ekoregion Sumapapua

Kabupaten Fakfak PDF Print E-mail

 

Delapan Pohon Setiap KK

dan Tiada Rumah tanpa Bunga

 

“Membangun tradisi menanam punya filosofi tersendiri, bahwa menanam itu bermanfaat bagi orang lain. Hidup ini harus memberi manfaat, tidak selalu pakai duit, cukup dengan menanam saja, dunia akan merasakan efek positifnya.” (Wahidin Puarada - Bupati Fakfak)

 

Itulah sebabnya kalau kita berjalan ke rumah-rumah penduduk di Kabupaten Fakfak, kita akan menemukan pemandangan memukau sekaligus mencengangkan. Rumah-rumah penuh pohon produktif seperti rambutan, mangga atau durian. Setidaknya delapan pohon setiap rumah. “Dua di depan, dua di belakang, dua di samping kiri kanan,” tegas Wahidin Puarada, Bupati Fakfak.

 

Tak hanya itu, bunga-bunga tumbuh mekar dengan berwarna-warni, jika tidak di luar rumah, pasti ditaruh di dalam. Kelihatanlah, rumah-rumah di Fakfak itu seperti villa-villa di taman bunga. Indah sekali. Pemandangan itu terlihat hingga di kampung-kampung. Itu anjuran saja, bukan sesuatu yang diatur secara rumit lewat peraturan formal. “Cukup dengan menyampaikan saja, dan menjelaskan filosofi menanam, filosofi bunga”.

 

Pertanyaannya, mengapa masyarakat bisa mendengar dan menanam?

 

Wahidin  menjelaskan secara singkat soal filosofi sebuah organisasi. Menurutnya, di dalam  organisasi itu hanya ada dua hal; tujuan organisasi dan kebutuhan orang-orang yang ada di dalamnya. Begitu kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi, maka mereka pasti bisa berbuat bagi daerah, karena mereka merasa telah dihargai atasjaminan sosial dari pemerintah. Jaminan kesehatan, jaminan pendidikan, jaminan perumahan dan sebagainya, jika semua terpenuhi maka masyarakat akan berlomba-lomba menunjukkan eksistensinya—“itu  teori alam” kata Wahidin.

 

Lalu, sudah pantaskah Fakfak disebut kota bunga?  Pertanyaan ini membuat Wahidin terbahak-bahak. Ia bercerita singkat soal pengamatannya di masyarakat, sesaat ketika ia terus mengkampanyekan istilah kota bunga. Orang-orang mulai berburu bunga dan berlomba-lomba menanam bunga. Kalau ada kapal yang singgah membawa bunga, maka kapal itu akan dikeroyok untuk mengambil bunga, bahkan ada bunga-bungan yang kadang dicuri orang, mungkin karena keinginannya memiliki sebuah bunga yang terlalu berlebihan.

 

“Bayangkan! Kalau seorang suami bangun subuh-subuh untuk shalat subuh bagi yang muslim, yang keristen siap-siap ke gereja, begitu ia membuka pintu, maka pandangan pertamanya adalah bunga. Lalu, ia menoleh ke belakang ia melihat isterinya yang cantik, bisa-bisa ia tidak ke kantor, karena harus dilanjutkan dulu.....” ia terbahak-bahak, tapi begitulah caranya  menyampaikan pesan di masyarakat, selalu dengan bahasa yang ringan dan mudah diterima.

 

Ia selalu mengingatkan pada masyarakat bahwa anjuran bersih itu bukan karena daerah ingin memperoleh Adipura, “tapi kita memang harus bersih!” sebagai bupati dan teladan di daerahnya, setiap pagi ia selalu memprogramkan untuk jalan-jalan bersama ketua RT dan masyarakat sambil membawah kantong plastik, kalau ada sampah di jalan akan dipungutnya tanpa segan-segan. Bagaimana masyarakat tidak mengikuti kalau pemimpinnya sungguh-sungguh memberi contoh yang baik. “Kan menyenangkan jalan-jalan sambil pungut sampah, pulang makan kacang ijo atau kelapa muda”.

 

“Saya senang kerapian. Bagi saya hijau itu harus juga bersih dan rapi,” ungkapnya. Sewaktu-waktu jika baru pulang dari luar kota,  dia selalu memperhatikan seksama rumput-rumput di sekitar bandara, jika ada yang tinggi-tinggi, maka segera ia akan menelpon Kadis Keindahan kota atau lurah untuk memangkasnya. Di Fakfak sendiri tersedia fasilitas alat pemotong rumput hingga ke kampung-kampung, mereka memang menganggarkan itu.

 

Sekarang ini Pemda Fakfak mengalokasikan anggaran sekitar 250 juta per RT—sebagian besar dana itu untuk penataan rumah dan kebersihan lingkungan. Rumah-rumah harus layak huni menurut persi masyarakat “bukan persi Bupati!” Pemda memang peduli dengan kenyamanan hidup masyarakat sampai ke hal-hal yang kecil-kecil; tidak boleh ada dua KK atau lebih dalam satu rumah.

 

Seberapa penting gerakan lingkungan ini bagi masyarakat? Wahidin sedikit bercerita bahwa pada tahun 1970-an, udara di Fakfak  sangat dingin. Kalau di pagi atau sore hari, kita tidak bisa mandi karena air seperti es. Dahulu, kalau air laut pasang, tidak pernah melewati batas jalan. Kini, semuanya berubah; air pasang kadang mengakibatkan bahu jalan tergenang, suhu udara pun mulai panas. Sekali-kali datang banjir. “Kadang kalau banjir datang, pasar terendam air. Saya bilang, biarkan saja begitu, biar masyarakat tahu bahwa banjir itu terjadi karena ulahnya sendiri yang buang sampah sendiri dan tidak mau pedulu lingkungan. Itu supaya mereka sadar.”

 

Menuju Gerakan Kultural

 

Yang akan di programkan ke depan ini adalah membuka jalur hijau yang dipenuhi pohon pala. Setiap 50 meter akan ditanami pala. Dengan begitu, Fakfak ini benar-benar layak di sebut kota pala. Empat tahun kemudian jika program tersebut berjalan, Fakfak akan berubah, termasuk merubah suasana iklim.

 

Di samping itu, Pemda memprogramkan upaya mengantisipasi sumber-sumber air dengan gerakan menanam bambu dan pala setiap hari jumat. Gerakan ini dianggap bisa menepis kecenderungan laju pembangunan yang pesat sementara alam kadang jadi korbannya. Maka, anjuran Pemda Fakfak adalah bagi yang memanfatakan lahan untuk pembangunan rumah misalnya, harus menanami kembali. “Tidak apa membuka lahan, tapi harus tanam.”

 

Selain itu, Pemda membangun regulasi sampah secara pelan-pelan. Tahun 2009 ini, Wahidin menganjurkan pada BLH agar memikirkan sampah. Programnya adalah menyiapkan tempat sampah di jalan setiap seratus meter. Tempat sampat sudah terpilah antara anorganik dan organik.

 

 

“Jika ada tempat sampah disiapkan, maka orang-orang yang makan gula-gula atau biskuit tidak akan membuang sampahnya sembarangan, sebab mereka akan paham bahwa sedikit lagi mereka berjalan ada tempat sampah.” Jelasnya. Tapi, program ini tidak serta merta berhasil, memang membutuhkan proses hingga terbangun secara kultural. “Saya sendiri memberi contoh, dimana-mana kalo saya memegang sampah, saya akan tanyakan dimana ada tempat sampah.”

 

Program tersebut dicanangkan jadi sebuah gerakan, memang membutuhkan kemauan tinggi. Pada ujungnya akan terbangun hidup bersih, hijau dan rapi itu sebagai budaya. “Jika begitu tidak perlu ada Perda lagi kan?”

 

Namun, untuk ke depan Wahidin pun menyadari bahwa Perda lingkungan sebagai dasar hukum memang sangat dibutuhkan.  Terutama dalam mengelola hutan yang sangat luas. Terlepas dari itu, ada hal yang paling urgen yakni bagaimana pemerintah pusat memberikan kompensasi yang layak bagi Pemda terhadap pelestarian hutan yang dilakukan. “Kami jaga hutan, tapi beri kami konpensasi supaya kami punya daya menjaganya,” ungkapnya.

 

Soal sejumlah perusahaan asing yang akan masuk ke Fakfak berinvestasi, Wahidin  memberi ruang seluas-luasnya, dengan catatan tidak mengganggu  ketentraman masyarakat. “KALAU ADA TANDA-TANDA TIDAK BAIK DIRASAKAN MASYARAKAT SETELAH PERUSAHAAN MASUK, SAYA AKAN USIR ITU PERUSAHAAN. SAYA INI TIDAK BISA DIBELI!”

 

Jangankan itu, nelayan yang masuk ke perairan Fakfak saja Wahidin instruksikan pada masyarakat untuk mengusirnya. “Saya minta pada Kapolsek juga untuk menembaki kapal nelayan dari luar yang masuk.”  (*)