Pusat Pengelolaan Ekoregion Sumapapua

Kabupaten Barru PDF Print E-mail

Berbekal Tim Solid, SLHD pun Lancar

Berbicara mengenai manajemen lingkungan di Kabupaten Barru maka kita akan menemukan pola koordinasi dan evaluasi yang apik.  Bupati sebagai pimpinan tertinggi ternyata cukup peduli pada pengelolaan lingkungan.  Walau melalui sms, ia menyempatkan diri mengkritik atau memberi saran kepada pihak-pihak pengelola lingkungan dalam hal ini kepada bidang Analisis Dampak Lingkungan.

Berikut ini wawancara Sinergi Hijau dengan Andi Takdir, SE, M.Si (Kepala Bidang Analisis Pencegahan Dampak Lingkungan) di Kabupaten Barru, menyajikan trik praktis dari Kabupaten Barru dalam pembuatan status lingkungan hidup daerah (SLHD) tepat pada waktunya.

 Apa motivasi Bapak sehingga mampu merampungkan SLHD (status lingkungan hidup daerah) tepat pada waktunya ?

Saya merasa jabatan itu sebagai amanah dan berusaha melakukan yang terbaik sehingga tidak tergantung sarana dan prasarana.  Karena dipercaya membawahi lingkungan hidup, mulai dari program Menuju Indonesia Hijau, Adipura.  SLHD sudah termasuk renstra unit kerja.  Setelah pemahaman tentang program tersebut maka tahun 2008 ini mulai dengan Adiwiyata.  Saya ingin berpartisipasi dalam mewujudkan visi misi Bupati menuju daerah “terkemuka dan bermartabat” melalui program lingkungan yang saya bawahi agar Barru bisa sejajar dengan daerah lain.

Apa saja hambatan yang Bapak hadapi ?

Sebenarnya kesulitannya pada koordinasi antara SKPD (unit kerja) tiap sektor atau instansi.  Misalnya adanya program Menuju Indonesia Hijau maka kita membutuhkan data-data dari Kehutanan, Pekerjaan Umum (dalam hal pengairan), pertambangan dan Bapeda.

Metode apa yang Bapak gunakan dalam mengakses data?

Ketika melakukan persuratan disertai dengan batas waktu dan form lampiran data yang jelas.  Jika instansi terkait menyelesaikan laporan dan melaksanakan instruksi dalam batas waktu yang ditentukan maka diberikan ucapan terima kasih secara formal bertanda tangan Bupati.  Biasanya saya memantau langsung pelaksanaan program lingkungan di tiap instansi terkait.

Bagaimana efektifitas melalui persuratan ?

Tergantung kesibukan instansi tersebut, kita memahami jika melewati batas waktu karena kita saling membantu dalam hal ini.  Jadi efektifitas persuratan 40% saja dan melalui koordinasi personal efektifitasnya 25 %.  Kami maksimalkan juga dengan mengakses data melalui staf instansi terkait yang sudah biasa menangani data base yang kami butuhkan.  Tapi tetap mendapat pengesahan dari kepala instansi terkait.

Bagaimana mensinergikan data-data tersebut ?

Saya memberi kepercayaan penuh kepada para staf tapi tidak fungsional (penunjukan saja).  Saya hanya mengarahkan dan mengikutkan sosialisasi dalam meningkatkan kapasitas mereka. 

Siapa yang paling berperan dalam tim Bapak ?

Semuanya diawali oleh komitmen dari pimpinan dalam hal ini Bupati.  Bukti perhatian Bupati, setelah geladi penerimaan adipura beliau mengirim SMS,  “SLHD KABUPATEN BARRU LEMAH”.  Saya tertohok tapi menjadi motivasi kuat.  Saya biasanya menunjuk satu staf untuk setiap satu program jadi lebih fokus.  Di samping itu, saya melakukan pengamatan internal lalu memetakan kinerja mereka.

Bagaimana cara Bapak  memetakan kemampuan para staf?

Melalui penugasan-penugasan dan evaluasi kerja mereka.  Tapi yang paling mendasar, saya mengutamakan staf yang memiliki skill komputer karena pekerjaan kami berhubungan dengan penginputan data.

Bagaimana cara memotivasi para staf yang berprestasi tersebut?

Bentuk penghargaan saya adalah kepercayaan dengan mendelegasikan mereka untuk berkoordinasi ke provinsi hingga tingkat Sumapapua dan mengikutsertakan mereka dalam sosialisasi.  Termasuk memfasilitasi komputer dan laptop.

Sebenarnya berapa orang yang membantu Bapak ?

Saya mengutamakan pendelegasian pekerjaan kepada eselon walaupun sebenarnya saya tahu yang bekerja stafnya mengingat adanya kode etik jabatan, maka kadang jika data macet maka saya akan menghubungi staf tersebut.

Adakah pertemuan khusus untuk berkoordinasi?

Tidak ada pertemuan khusus, kami melengkapi data melalui hubungan personal dengan instansi lain.  Kami juga membangun silaturahmi dengan instansi lain melalui partisipasi dalam kegiatan instansi tersebut.  Jika suatu waktu kami butuh data maka sudah ada kedekatan emosional. 

Adakah instansi yang kadang telat dalam memberikan data ?

Tentu ada, tapi kita memahami bahwa kadang ada instansi yang kesibukannya lebih seperti keuangan.  Jadi kadang-kadang kita hanya meminta APBD, lalu kita pilih anggaran yang berhubungan dengan lingkungan.

Artinya mengumpulkan data-data tersebut tidak mudah ?

Jelas tidak mudah tapi yang jelas ada koordinasi, komunikasi dan kemauan. 

Menurut Bapak, kira-kira apa yang menghambat daerah lain ?

Biasanya kesulitan memulai saja dan terpaku pada data-data dan kurang padahal bisa disiasati dengan menyampaikan data apa adanya sehingga ke depannya data tersebut menjadi evaluasi untuk ditingkatkan.

Bapak ada pesan buat daerah lain dalam hal penyediaan data tersebut ?

Setiap daerah berbeda kondisinya, tapi yang paling penting adalah memulai saja, ada niat dan kemauan.

Target-target Barru Apa cita-a-cita dan harapan Bapak ?

Target saya sebenarnya bisa melaksanakan program nasional mulai dari program menuju Indonesia hijau, adipura, adiwiyata dan kalpataru.  Ada satu lagi yang belum bisa saya wujudkan yaitu harapan Bupati untuk launching kebun raya.  Persiapan sudah mulai dengan penanaman Eboni dan tumbuhan khas Barru yakni Aju Berru.  Arealnya cukup luas di Kecamatan Tanete Rilau (*)