Pusat Pengelolaan Ekoregion Sumapapua

Kota Kolaka PDF Print E-mail

Menjadikan Kendari Kota Dalam Taman

Pergantian pemerintahan seringkali diiringi dengan bergantinya kebijakan. Sebab setiap pemimpin memiliki ide-ide tersendiri yang akan diimplelemntasikan dalam masyarakatnya. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi pasangan Walikota Kendari Ir.H. Asrun,M.Eng dan Wakil Walikota Kendari H. Musadar Mappasomba,SP,MP.

Bagi mereka, melanjutkan program pembangunan yang diwariskan oleh pemerintah sebelumnya bukan masalah, apalagi gengsi. Program jangka panjang walikota Kendari sebelumnya yakni membuat ‘Kendari Kota Dalam Taman’. Program inilah kemudian dilanjutkan sebagai salah satu agenda mereka, untuk lima tahun ke depan.

Konsep pembangunannya, mewujudkan kelanjutan suatu kota dalam taman, “ Itu menjadi semangat pembangunan periode sebelumnya. Karena kita melihatnya satu hal yang bagus. Di bahwa pimpinan Walikota yang baru dan saya sebagai wakilnya, hendak meneruskan ini. Bagi kita  kalau sesuatu itu bagus mengapa tidak dilakukan,” kata H Musadar Mappasomba, Wakil Walikota Kendari beberapa waktu lalu.

Putra Sulawesi Selatan (Sulsel) yang mendedikasikan diri di ibukota Sulawesi Tenggara (Sultra) ini menganggap, pada program yang lalu itu hanya perlu dipoles untuk menyempurnakan konsep yang telah berjalan beberapa tahun belakangan. Beberapa bagian telah ada, seperti ribuan pohon telah ditanam di pinggir jalan.

Menciptakan kota dalam taman agar terlihat indah, bukan hal yang muluk-muluk, apalagi tahun 2009 ini kota yang dulunya dicap sebagai kota terjorok, menargetkan piala Adipura. Piala Adipura adalah program pemerintah pusat di bidang lingkungan hidup yang menantang pemerintah kabupaten/kota dalam menciptakan kota yang bersih. Komitmen yang tinggi antara pemerintah dan semua elemen masyarakat untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang berkualitas merupakan salah satu tututan meraih lencana bergengsi di bidang lingkungan.

“ Implementasinya, lahirnya kesadaran dari kami dan masyarakat, bagaimana menata lingkungan di Kota Kendari ini agar semakin hijau. Tatarannya, yah kurung waktu dua tahun ini sudah sekitar ratusan ribu bibit pohon telah di tanam di sepanjang jalan kota Kendari,” imbuhnya.

Budaya menanan ini hendak ditanamkan dalam mastarakat Kendari, meski tidak dibuat dalam Peraturan Pemerintah (Perda) Kota Kendari namun dalam aplikasinya tetap melibatkan banyak elemen masyarakat. Di antaranya,  bekerjasama dengan korps TNI peduli kota yakni dari Komando Distrik Militer (Kodim) Kota Kendari, gerakan Pramuka, Organisasi Kepemudaan (OKP), PT. ASKES, PT. JAMSOSTEK. Seperti halnya di Makassar Bank Panin juga berperan dalam menghijaukan kota Kendari.

Selain ditanam sebagai tanaman pelindung di sepanjang jalan-jalan protokol di dalam kota, bibit juga dibagikan langsung kepada masyarakat, terutama tanaman buah dan jati. Sebab, tanaman seperti ini selain menjadi tanaman pelindung juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan demikian juga berpengaruh mengurangi efek pemanasan global yang meresahkan masyarakat dunia belakangan ini.

Keterlibatan semua unsur membuat pejabat yang dilantik 2007 lalu ini  bersemangat untuk meraih target  kota terbersih. Hanya saja,  semangat itu harus komunal dan  semua elemen masyarakat. Baik  yang diinisiasi oleh pemerintah maupun kesadaran masyarakat sendiri. Sebab, terkadang gerakan itu mantap di awal-awal sajatapi untuk mempertahankan menjadi sebuah tradisi di masyarakat, merupakan hal yang sulit. “ Seperti yang sering dikatakan pak Walikota, bahwa yang perlu digerakkan  bukan hanya gerakan menanam tapi juga bagaimana melanjutkannya. Setelah ditanam yang tak kalah pentingnya adalah merawat hingga tanaman itu dapat mencari makanan sendiri,” ujar dosen fakultas Pertanian Universitas Haluuleo ini.

Gerakan menanan akan lebih efektif jika dijadikan kultur dimasyarakat. Harus ada yang memberi contoh dan memberikan sosialisasi secara terus menerus dalam proses penyadaran dalam masyarakat. Sehingga pada akhirnya menjadi karakter masyarakat, sehingga lebih suistenable dan berkelanjutan,” terangnya.

Karenanya, mengiringi program kota dalam taman, turut pula dicanangkan gerakan evaluasi setelah menanam. Agar, dapat diketahui berapa jumlah tanaman yang tumbuh dan yang mati.

Kepercayaan yang diberikan masyarakat padanya, menjadikan Kendari makin mantap  menata lingkungannya. Bahkan beberapa daerah telah ditetapkan sebagai wilayah agro wisata yakni kelurahan Adelia Dalam dan daerah lain yang akan mengikut yaitu  Nanga-nanga di daerah wisata Amohalo. Kedua tempat ini sebagian besar wilayahnya merupakan hutan perawan.

Selain itu,  bukti kepedulian pemerintah kota Kendari juga terjadi pada perubahan institusi yakni,  status kantor lingkungan hidup berubah menjadi badan. Atau dinaikkan menjadi Badan Lingkungan Hidup yang setara dengan eselon II.

Sebagai tuan rumah pada festival bunga nasional tahun 2010 Kendari akan mempersipakan diri menjadi tuan rumah yang baik. Meningat di kota ini memiliki potensi tanaman holtikultura dan tanaman hias yang lumayan bagus. Itu akan menunjang pencapaian misi, menciptakan kendari sebagai kota dalam taman yang dikelilingi dengan tanaman hijau.

Tantangan yang dihadapi oleh pemerintah Kendari ini, jika dapat diambil hikmahnya akan memberikan hasil yang membanggakan.  Mengahpus stigma kendari kota terkotor, target mendapatkan piala Adipura serta tuan rumah pada festival bunga 2010 nanti akan menjadi bara penyemangat pemerintahnya. Mampukah kota Kendari memenangkannya? kita lihat saja nanti!.(*)